Sekilas Nuansa
tentang Istilah
“Punya Seperti Tak
Punya”
Oleh: N.A.Putri
Suatu malam di Yogyakarta, di
kamar hotel yang indah, sekitar pukul 21.00 diluar terdengar rintik hujan yang
gemericik. Suasana yang sejuk dengan pepohonan di luar yang cukup rindang
menambah suasana romantis diantara kami berdua. Tahukah aku dengan siapa ? kala
itu aku sedang dengan kakak kelas, perempuan tentunya, bukan dengan seorang
laki-laki yang mungkin sudah dipikirkan para pembaca. Toh kata ‘romantis’ itu
bukan hanya untuk sepasang laki-laki dan wanita saja kan? tapi bisa antara adik
dan kakak, saudara, atau antara orang tua dan anak.
Dan, sama seperti aku pada waktu
itu dengan Kak Diana sebut saja begitu, yang sedang asik belajar dan membahas
materi yang besok akan dipresentasikan untuk lomba karya tulis di salah satu
Fakultas Hukum Perguruan tinggi negeri ternama di Yogyakarta, tentu untuk
membawa nama kampus kami. Aku yang turut membantu tim ini sedang mencoba
memberi masukan dan pendapat kepada kak Diana agar esok bisa lebih kompak dan
meyakinkan bahwa kita bisa dan pasti bisa untuk mengikuti lomba tersebut.
Hujan di luar semakin gemericik,
pendingin ruangan semakin mendekap kami dalam kedinginan, kamar kami yang berada
paling depan, membuat kami mudah mendengar suara kendaraan yang lalu lalang di
depan hotel kecil yang bernuansan kejawaan ini. Aku melihat kak Diana yang
sibuk dengan ponselnya, sementara kulirik ponselku … tidak berbunyi sedikitpun.
Hanya sesekali suara whatsapp tentang info-info atau dari sahabatku Difa yang
kuliah di Yogyakarta, dan kami merencanakan bertemu besok. Tapi dari seseorang
yang lain, tidak ada. Kak Diana masih sibuk dengan ponselnya, baru sebentar
bicara pasti sudah bunyi lagi… pembicaraan kami tentang materi tiba-tiba
berbelok menjadi pembicaraan tentang sesuatu yang krusial… tentang hati…
“Avita… kamu gimana sama si dia…?”
Tanya kak Diana dengan senyum menggodanya.
aku mengerutkan alis…
“dia yang mana ya… hehe” balasku
sambil bercanda.
“eh yang itu lhoo.. yang
lukisannya ada di kamar kamu waktu aku ke rumahmu….”
“haha, baik …”
“perasaan kakak, kamu jarang
smsan deh…”
“smsan kok… daritadi kan aku
megang hp”
“Eh maksudnya sama dia… sering
smsan gak?”
Wah … pertanyaannya kak Diana
udah kayak reporter saja, aku jadi bingung juga.
“smsan, tapi biasa aja… biasanya,
kalo dia lagi sibuk, atau akunya lagi ada acara kayak sekarang, smsnya paling Cuma
malem aja pas mau tidur, kita sama-sama ngucapin selamat tidur… itu aja… tapi
kalo hari biasa, maksudnya kalo lagi biasa aja, gak sama-sama sibuk smsan dan
itu juga ya biasa aja, gak sering-sering amat. Tapi sesibuk apapun, tetep
komunikasi kok, walaupun cuma ngingetin ‘jangan lupa tadarusnya…’ ya kita emang
gitu kak…”
“Kalo sms, misalnya udah makan
belum, lagi dimana, lagi ngapain… gitu?”
“Haha, iya kok sama, nanya gitu
juga, tapi dirapel dalam satu waktu, jadi gak tiap waktu smsan…”
“Terus, kalo ketemu… ?”
“Biasa aja.. ya ketemu…” jawabku
datar sambil tersenyum.
“Terus kalo ketemu ngapain aja…? Terus
setiap hari gak ?” Tanya Kak Diana lagi.
“Wah engga kak, palingan dua
minggu sekali, atau kalo bener-bener lagi sama-sama sibuk bisa sebulan sekali…
ya kalo ketemu, biasanya dia nunggu aku sambil baca koran, terus kita bahas
berita terkini… buka koran, terus dia nunjukin ini berita hukum, palingan dia
nanya, tadi kuliah apa? Pembahasannnya tentang apa ? terus mendengarkan aku
sambil terus nanya, atau kadang dia bawa buku sejarah terus dia cerita gambaran
umum buku itu, dia juga pernah minta aku bawa beberapa buku hukum atau ngasih
aku buku tentang hukum, terus dia minta diceritain… ya gitu-gitu aja…” jawabku
panjang lebar.
“Kok datar ya…” kak Diana merespon
dengan tampang herannya mendengar ceritaku tadi.
“apa gak pernah gimana gitu
selain seperti itu… selain ngomongin berita atau ngomongin buku?” tambahnya.
“Ya cara kami dekat memang
seperti itu kak… kayak temen diskusi”
“apa gak pernah ngomongin
hubungan kalian …?”
“wah, kalo itu aku bingung nih
jawabnya..”
“iya maksudnya… apa kek yang romantis-romantis?”
“Wah, kalo itu rahasia… hehe’,
tapi cara itu udah cukup romantis buat aku”
“apa gak ngerasa punya tapi kayak
gak punya? Kalo ketemunya jarang, terus telfonan atau smsan juga jarang?...”
“Mungkin … kadang-kadang, tapi ya
yang punya dia dan aku adalah Allah Ta’ala… bukan aku memiliki dia atau dia
memiliki aku, kami belum sah kak jadi suami istri… jadi aku Cuma berani bilang
ada hati seseorang yang harus aku jaga perasannya… bukan dia punyaku atau aku
punya dia” aku mulai serius. “ tapi… Iri juga kadang ngeliat temen-temen yang
bisa ketemu orang yang mereka suka tiap hari, makan bareng, ngerjain tugas
bareng… tapi aku cukup bersyukur bisa belajar seperti ini…” kataku sambil
menunduk, dan kok tiba-tiba jadi ngerasa dramatis gini yaa.. hehe.
“Hm … jadi gimana Avita … ?”
“Apanya kak ?”
“apa gak pernah kangen … ?”
“Ya pasti ya…”
“Manusiawi yaa… ?”
“Hm, kata guruku, hal yang paling
manusiawi adalah ketika kita benar-benar berusaha taat pada Allah, dan masalah
kangen… aku pernah bahas itu sama dia… waktu itu kita lagi baca artikel tentang
‘hukumnya rindu’… tapi ternyata rindu yang dimaksud adalah rindu pada dimensi transendental
atau rindu pada Sang Pencipta bukan rindu yang diartikan rindu-rindunya
laki-laki ke perempuan atau sebaliknya. Nah, pas sama-sama baca artikel itu,
kami berdua sepakat kalopun kangen ya dinikmatin aja sebagai apa yang sudah
seharusnya, tapi kangen yang sebenarnya ya hanya milik Allah semata… itu aja
kak… walaupun kadang-kadang ada yang suka kasih istilah ‘punya kok kayak gak
punya…’ tapi aku punya Allah kok, haha’ dan dia… sekarang Cuma jadi apa yang
Allah perkenalkan ke aku dan belum tau kedepannya gimana… Cuma bisa selalu
berdoa, kak…” ucapku sambil tersenyum. Kak Diana yang masih asyik mendengarkanku
tersenyum juga kepadaku.
“Baguslah… jadi gitu ya…” ucapnya
sambil mengangguk-angguk.
Selanjutnya masih ada percakapan
antara aku dan kak Diana dalam menghabiskan malam-malam di Yogyakarta akhir pekan
itu. Meskipun agak bingung dengan pertanyaan kak Diana, ungkapanku tadi seperti
memberi makna sendiri bagiku. Seperti mengulang lagi apa yang aku tahu tentang
dia, meskipun tidak banyak. Tapi itulah yang bisa kuceritakan kepada kak Diana
dan para pembaca semua. Semoga memberi manfaat. Meskipun aku tahu banyak sekali
kisah-kisah diluar sana yang lebih memberi makna, namun cerita ini adalah satu
makna bagiku untuk mengartikan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan
adalah sebuah doa. Bukan berarti ketika sudah dekat, sudah tahu bahwa ia adalah
jodoh kita, tapi ini merupakan langkah awal untuk selalu berdoa kepada Sang
Pencipta untuk memberi keyakinan bahwa seorang jodoh untuk kita pasti akan Dia
pertemukan dengan kita di waktu yang terindah, termudah, dan terberkah.
(Kata-kata guruku :D)
