zaterdag 26 juli 2014

PENGALAMAN PERTAMA

PENGALAMAN PERTAMA
Oleh : N.A.Putri

Add caption
Banyak orang yang memiliki pengalaman pertama yang berharga. Menginspirasi, yang mendalam atau yang tidak akan terlupa selamanya dan bahkan akan menjadi pengalaman yang digelar ceritanya sepanjang masa untuk memacu api semangat dalam kehidupan selanjutnya. Agaknya, mungkin sebagian orang memandang berlebihan jika kuceritakan pengalaman ini, teman-teman di luar sana tentu pernah merasakan pengalaman yang sama atau justru merasakan pengalaman yang lebih luar biasa. Namun, apapun itu, akupun ingin berbagi pengalaman pertama yang amat luar biasa bagiku. Di tengah malam ini, aku mengenang kembali proses belajar yang menekan, terjadwal, terangkai, dan bertujuan. Lagi-lagi ini bukan proses yang pertama bagiku, proses belajar seperti ini sudah kukenal sejak aku duduk di pendidikan pesantren sewaktu Aliyah. Menekan dan terjadwal untuk satu tujuan. Malam, siang, di meja makan, di tempat tidur, bahkan belajar menjadi suatu kegiatan yang terbawa di alam mimpi waktu itu. Tertidurpun mulutku masih komat-kamit menghafal muthola’ah (pelajaran cerita hikmah berbahasa arab). Lelah, namun kelelahannya nyata karena bertujuan dan begitu indah. Ketika di bangku kuliah belum lama ini, masih di tahun yang sama ketika aku menulis cerita ini, aku mengikuti kompetisi debat universitas tingkat nasional di salah satu universitas ternama di Indonesia. Universitas Padjadjaran Bandung, kami tim dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berangkat dengan segenggam doa, segumpal keyakinan dan setitik kepasrahan di dalam usaha yang sudah kami lakukan. Proses belajar ketika itu bersifat hampir sama seperti apa yang kurasakan ketika di pesantren, namun ini lebih bersifat kooperatif karena di dukung berbagai komponen, karena kami adalah tim, dan bukan personal sendiri. Dari mulai senior, temna-teman seangkatan, dosen, sampai wakil dekan ikut andil dalam proses pembelajaran kami ini. Inilah the super team, yang saling mendukung dan selalu memeberi pemakluman jika di tengah-tengah latihan kami lelah atau kami memiliki jadwal lain dan harus meninggalkan latihan. 
Tapi sungguh, sekali lagi, jika cerita ini dianggap berlebihan, aku hanya ingin masuk ke dalam daftar orang yang mampu berterimakasih kepada orang-orang yang sudah mengukirkan semangat dan sampai akhirnya aku mampu menceritakan pengalaman ini. Mungkin kami dari kampus yang belum semapan kampus lainnya dalam kompetisi debat, namun kami yakin di tengah keterbatasan itulah titik kekuatan kami memancar. Dalam segi internal kami kuat dari kelompok kami saja, namun tidak dikuatkan dari kelompok lain sebagaimana aku melihat kampus lain yang selalu bersinergi ketika mereka mengikuti kompetisi. Justru dalam kondisi seperti itulah kami sendiri yang saling menguatkan dan mampu belajar dari proses yang berbeda dari yang lainnya. Ketika secara berangsur sesi demi sesi kami lalui, segala perasaan bahkan berkecamuk. Mungkin bagi teman-teman pembaca yang pernah mengalami hal yang sama akan tau bahwa dalam setiap kompetisi itu dapat diibaratkan seperti perang. Benar sekali, debat hukum adalah debat akademis yang dipertahankan dengan amunisi intelektualitas dan keyakinan. Setelah kami masuk ke sesi semifinal dan kemudian kami menunggu pengumuman semifinal, aku sudah tidak mampu tersenyum, tidak mampu mengatakan apapun, dan air mata seperti menetes bahkan deras. Menetesnya air mataku karena rasa syukur atas semua proses ini, dan tentu atas kegelisahan menanti pengumuman. Biarlah menangis sebelum diumumkan dibandingkan harus menangis selepas diumumkan siapa tim yang berhak maju ke final, itu pikirku. Salah, ternyata ketika diumumkan tim kami berhak maju ke final justru air mata bukan berhenti namun semakin deras dan pelukan-pelukan hangat dari kak endah, kak kendri, dan kak cantika adalah hal yang semakin membuatku sesak. Adik-adik satu tim (Triesna dan Raziv) yang selalu tersenyum dan menenangkan, merekapun menjadi titik kekuatanku. Dan inilah, klimaks pengalaman pertamaku, ketika babak final kami berhadapan dengan Universitas Hasanudin dari Makasar, aku harus berdiri di podium dan menghadapi ratusan pasang mata yang mereka adalah peserta semua kompetisi yang berasal dari penjuru Indonesia, terlebih aku harus berbicara di depan Sembilan juri yang mereka adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya. Prof. Sri Soemantri, Prof. Saldi Isra, Prof. Hikmahanto Juwana, Prof, Shidarta, Prof. Ali Zainudin, Prof. Susi dan yang lainnya. inilah pertama kalinya aku harus mengungkapkan argumentasiku di depan mereka yang selalu kubaca analisisnya dan tak tahu ternyata merekalah juri pada kompetisi ini. Usai menjalani tugas kami memaparkan argumentasi di babak final, ada perasaan lega dan lebih ikhlas ketika menunggu pengumuman, dan aku sudah sangat siap apabila Universitas Hasanudin yang berhak menjadi juara 1 dalam kompetisi ini. Namun lagi-lagi salah, sangat salah. Ketika diumumkan bendera UIN lah yang harus berkibar dan sekali lagi, emosi tangis mewarnai tim kami. Aku maju dan menerima tropi kemenangan atas tim kami, dan berdiri tegak dengan senyum bekas tangis di samping Prof. Sri Soemantri seorang penggagas amandemen Undang-Undang Dasar 1945, seorang ahli hukum tata negara yang pemikirannya selalu digunakan demi kemajuan Negara Republik Indonesia, seorang yang memiliki kontribusi besar dalam pembangunan tata negara Indonesia. Inilah pengalaman pertama yang berharga bagiku, dan semoga bukan untuk yang pertama dalam penorehannya namun akan menjadi pengalaman pertama yang dapat mengamini pengalaman-pengalaman berikutnya. Semoga selalu tertanam rasa semangat, dan kita mampu menyadari bahwa di sekeliling kita banyak titik-titik yang menguatkan tanpa harus fokus pada satu titik yang menjatuhkan :)