dinsdag 12 augustus 2014

Caringin With Our Child

Caringin With Our Child
Oleh N.A.Putri

Siapa yang tahu, dalam beberapa tahun terakhir arus globalisasi deras melunturkan kultur bangsa timur yang terkadang dikatakan bangsa ramah tamah. Indonesia salah satunya merupakan negara yang beraneka ragam suku, yang adatnya amat natural. Kadang gelisah melihat seluruh tanah air yang diwarisi para leluhur dengan prinsip-prinsip ajaran yang amat baik yaitu mengenai gotong royong agaknya luntur dan goyah. Globalisasi yang menyerang seperti masuknya teknologi yang begitu maju seperti tidak terkendali dan tidak digunakan dengan baik sesuai fungsinya. Di daerahku, Tangerang Selatan, sudah tidak heran anak usia 7 tahun bahkan 5 tahun sudah mampu menggunakan smartphone, mengenal internet, dan selalu mencontoh kalimat-kalimat gaul yang sering mereka dengar di tv atau di media lainnya. Mungkin tidak ada yang salah, kemajuan teknologi justru membuat kemajuan berpikir pula, kemajuan kreatifitas, kemajuan dalam segi pendidikan. Namun bayangkan, sebuah keluarga berkumpul dengan seorang anak berusia 6 tahun dan berkumpul dengan masing-masing memegang smartphone dan masing-masing sibuk dengan dunia yang katanya diciptakan atas kemajuan     globalisasi. Bukankan kekeluargaan jadi berubah individualis dengan sapaan terdekat?

Aku tertegun, ketika hari ini, hari keduaku di sebuah Desa Caringin Pinggiran kota Tangerang-Banten. Kami sekelompok diberi tempat tinggal di lingkungan yang agamis dan tidak bertentangan secara ideologi dengan kami semua. Aku melihat anak-anak usia 5-12 tahun berbondong-bondong lari ke musholla ketika solat Maghrib. 5 gadis cilik, yang sangat membuatku terpaku, mereka berlari ke ruangan sebelah musholla sederhana itu untuk mengaji dengan membuat lingkaran. Mungkin aku sudah sangat jarang melihat pemandangan tersebut di daerahku maka ada rasa bersyukur ternyata masih ada anak-anak yang berbondong-bondong mengerti arti syukur, mengerti arti membantu orang tua di usia sekecil itu, mengerti bagaimana mereka mengahadap TuhanNya, mereka merasa malu ketika harus berjama ah karena ada beberapa jama’ah laki-laki. Mereka mengerti rasa malu! Alhamdulillah… inilah anak-anak bangsa sesungguhnya mampu mengerti rasa hormat, budi pekerti dan dibalut dengan pendidikan dari orang tua tentang akhlakul karimah. Inilah anak-anak bangsa yang tidak individualis akibat mengenal teknologi, mereka membuka mata dengan melihat lingkungan sekitar dengan menempatkan diri sebagai anak-anak kepada temannya, sebagai anak-anak kepada orang tuanya, dan sebagai anak-anak kepada yang lebih tua. Aku mendapat kunci nyata, meski kecil mungkin, tapi ini pembuka gerbang besar bagi pembelajaran. Anak-anak ini harus mengenal teknologi tapi dibalut dengan pembatasan pemahaman yang baik, dan tetap pada koridornya sebagai anak bangsa.

Akan ada paragraf selanjutnya tentang Desaku. Caringin-Cisoka.