vrijdag 28 augustus 2015

Sejati

SEJATI
Perkenalkan, namaku sejati. Aku dijadikan nama sebuah kelompok Kuliah Kerja Nyata dari hasil perdebatan sengit mereka yang baru saja saling kenal. Mereka terdiri dari lima fakultas, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Sains dan Teknologi, Faultas Dirasat, dan Fakultas adab dan Humaniora. Sebelum aku masuk bagaimana sejati menjalankan kegiatannya aku perkenalkan dulu apa itu KKN.

KKN, Kuliah Kerja Nyata, awalnya ini adalah kurikulum yang ditentang habis-habisan oleh mereka dari jurusan Ilmu hukum, kabarnya, karena tidak sesuai dengan kurikulum universitas lain, karena Fakultas Hukum kebanyakan menerapkan KKL atau Kuliah Kerja Lapangan, dimana mereka langsung diterjunkan ke institusi-insitusi untuk mengetahui bagaimana pengalaman mengamalkan ilmu mereka di bidang kerja. Alhasil, pertentangan tersebut hanya angina sepoi yang lewat begitu saja di telinga bapak Kepala Program Studi, hanya mengiyakan, membuat harapan bagi anak-anaknya. Singkat kata, akhirnya anak-anak hukum yang katanya kritis akhirnya tetap mengikuti sistem yang berjalan. And say “Welcome KKN”.

Balik lagi ke nama sejati, Sejati singkatannya adalah Sejahtera Indonesia, haha sebenernya ini hasil ‘inspirasi’ sahabat kami dari kelompok sebelah tapi tetep program dan visinya beda kok. Kelompok ini terbentuk, dengan karakter pribadi yang super beda-beda, tapi nyatanya hati kami sama. Semuanya anak-anak akademisi, kalau kata orang nyari pasangan bercermin sama diri kita sendiri, cari kelompok KKN juga sama, sekelompok itu kayak cerminan diri kita. Sejati, terdiri dari anak-anak yang concern di dunia kompetisi, sosial, dan akademis. Lurus banget pemikirannya, saking pada idealisnya, debat dan tanggapan akademis kadang jadi bahan rapat yang akhirnya rapat itu isiny kayak pendapat ahli di sidang putusan.

Pemain di kelompok sejati ada 14 orang, tadinya 15 orang atpi satu orang mengundurkan diri karena ritmenya beda. Sebut aja gitu. Yang asiknya, bisa dianalogikan, kalo Sejati ini kayak harmoni music, individualis, memperhatikan geraknya sendiri tapi kalo disatukan jadi harmonisasi yang kuat dan menghasilkan haru biru kalau ingat semuanya hampir bekerja keras di setiap sesi kegiatan.
Disamping kegiatan-kegiatan yang asik, seru, menantang, dan memacu kemandirian. Kita juga punya kegiatan rutin yaitu olahraga bareng, karena salah satu anggota Sejati atlet beladiri, jadi disiplin banget sama yang namanya olahraga. Hampir seminggu tiga kali, antara pagi atau sore kita semua pasti main bola bareng, 14 dibagi dua tim jadi tujuh tujuh. Itu gak pernah sekalipun dilakuin pas di kampus kecuali kalo acara-acara gathering  di luar kampus. Dan, kedengerannya ‘alah Cuma gitu aja’ tapi momentnya itu yang ga nolak kalo harus dilakuin lagi.

Itulah KKN, its great experience, yes, experience itu kata kuncinya. But, buat sebagian orang mungkin KKN ga penting, buat apa? Tapi kalo merasakan sendiri, KKN bisa dianalogikan kayak pesawat, ketika di dalamnya agak ngeri2 kalo misalnya nih pesawat jatuh atau apa, tapi pas keluar, amazing aja ngeliat pesawat bentuknya besar yaa… nah, feel amazing itu yang ternyata kalo buat temen2 yang nikmatin banget KKN nya bakal ngerasa kayak gitu.

Sebagian orang lagi, akan merasa KKN itu malapetaka, kenapa? Banyak yang punya plesetan KKN itu Kuliah Kerja Nikung, kenapa? Karena saking intensnya kegiatan bareng dalam KKN itu, banyak pasangan yang pacaran tapi beda kelompok bakal putus, ribut, selingkuh, ya akhirnya ngejomblo pasca KKN. Tapi itu salah satu tindakan dangkal sih, karena kalo fokus di kesibukan KKN dan sesuai tujuannya, mungkin ya ga akan terjatuh di lubang seperti itu. Hehe

Akhirnya, KKL yang tadinya dipuja-puja, karena merasa ya itu yang harusnya ada di kurikulum, ngerasain dunia kerja, tapi apa? Kesimpulannya, KKL itu standard Top-Down, kalo KKN itu standard Bottom-Up, harus tau dulu kebutuhan masyarakat, nanti kalo kerja di dunia yang mengeluarkan kebijakan, jadi udah tau betapa dinamisnya pemikiran orang-orang disana. Belajar negoisasi, belajar ngatur ini itu tanpa arahan dosen yang intens. Tujuan mahasiswa as agent of change nya tercapai.


Ini cerita Sejati, cerita yang lain? ^^