zondag 1 december 2013

Sekilas Nuansa tentang Istilah "Punya Seperti Tak Punya"



Sekilas Nuansa tentang Istilah
“Punya Seperti Tak Punya”
Oleh: N.A.Putri

Suatu malam di Yogyakarta, di kamar hotel yang indah, sekitar pukul 21.00 diluar terdengar rintik hujan yang gemericik. Suasana yang sejuk dengan pepohonan di luar yang cukup rindang menambah suasana romantis diantara kami berdua. Tahukah aku dengan siapa ? kala itu aku sedang dengan kakak kelas, perempuan tentunya, bukan dengan seorang laki-laki yang mungkin sudah dipikirkan para pembaca. Toh kata ‘romantis’ itu bukan hanya untuk sepasang laki-laki dan wanita saja kan? tapi bisa antara adik dan kakak, saudara, atau antara orang tua dan anak.
Dan, sama seperti aku pada waktu itu dengan Kak Diana sebut saja begitu, yang sedang asik belajar dan membahas materi yang besok akan dipresentasikan untuk lomba karya tulis di salah satu Fakultas Hukum Perguruan tinggi negeri ternama di Yogyakarta, tentu untuk membawa nama kampus kami. Aku yang turut membantu tim ini sedang mencoba memberi masukan dan pendapat kepada kak Diana agar esok bisa lebih kompak dan meyakinkan bahwa kita bisa dan pasti bisa untuk mengikuti lomba tersebut.
Hujan di luar semakin gemericik, pendingin ruangan semakin mendekap kami dalam kedinginan, kamar kami yang berada paling depan, membuat kami mudah mendengar suara kendaraan yang lalu lalang di depan hotel kecil yang bernuansan kejawaan ini. Aku melihat kak Diana yang sibuk dengan ponselnya, sementara kulirik ponselku … tidak berbunyi sedikitpun. Hanya sesekali suara whatsapp tentang info-info atau dari sahabatku Difa yang kuliah di Yogyakarta, dan kami merencanakan bertemu besok. Tapi dari seseorang yang lain, tidak ada. Kak Diana masih sibuk dengan ponselnya, baru sebentar bicara pasti sudah bunyi lagi… pembicaraan kami tentang materi tiba-tiba berbelok menjadi pembicaraan tentang sesuatu yang krusial… tentang hati…

“Avita… kamu gimana sama si dia…?” Tanya kak Diana dengan senyum menggodanya.
aku mengerutkan alis…

“dia yang mana ya… hehe” balasku sambil bercanda.

“eh yang itu lhoo.. yang lukisannya ada di kamar kamu waktu aku ke rumahmu….”

“haha, baik …”

“perasaan kakak, kamu jarang smsan deh…”

“smsan kok… daritadi kan aku megang hp”

“Eh maksudnya sama dia… sering smsan gak?”

Wah … pertanyaannya kak Diana udah kayak reporter saja, aku jadi bingung juga.

“smsan, tapi biasa aja… biasanya, kalo dia lagi sibuk, atau akunya lagi ada acara kayak sekarang, smsnya paling Cuma malem aja pas mau tidur, kita sama-sama ngucapin selamat tidur… itu aja… tapi kalo hari biasa, maksudnya kalo lagi biasa aja, gak sama-sama sibuk smsan dan itu juga ya biasa aja, gak sering-sering amat. Tapi sesibuk apapun, tetep komunikasi kok, walaupun cuma ngingetin ‘jangan lupa tadarusnya…’ ya kita emang gitu kak…”

“Kalo sms, misalnya udah makan belum, lagi dimana, lagi ngapain… gitu?”

“Haha, iya kok sama, nanya gitu juga, tapi dirapel dalam satu waktu, jadi gak tiap waktu smsan…”

“Terus, kalo ketemu… ?”

“Biasa aja.. ya ketemu…” jawabku datar sambil tersenyum.

“Terus kalo ketemu ngapain aja…? Terus setiap hari gak ?” Tanya Kak Diana lagi.

“Wah engga kak, palingan dua minggu sekali, atau kalo bener-bener lagi sama-sama sibuk bisa sebulan sekali… ya kalo ketemu, biasanya dia nunggu aku sambil baca koran, terus kita bahas berita terkini… buka koran, terus dia nunjukin ini berita hukum, palingan dia nanya, tadi kuliah apa? Pembahasannnya tentang apa ? terus mendengarkan aku sambil terus nanya, atau kadang dia bawa buku sejarah terus dia cerita gambaran umum buku itu, dia juga pernah minta aku bawa beberapa buku hukum atau ngasih aku buku tentang hukum, terus dia minta diceritain… ya gitu-gitu aja…” jawabku panjang lebar.

“Kok datar ya…” kak Diana merespon dengan tampang herannya mendengar ceritaku tadi.

“apa gak pernah gimana gitu selain seperti itu… selain ngomongin berita atau ngomongin buku?” tambahnya.

“Ya cara kami dekat memang seperti itu kak… kayak temen diskusi”

“apa gak pernah ngomongin hubungan kalian …?”

“wah, kalo itu aku bingung nih jawabnya..”

“iya maksudnya… apa kek yang romantis-romantis?”

“Wah, kalo itu rahasia… hehe’, tapi cara itu udah cukup romantis buat aku”

“apa gak ngerasa punya tapi kayak gak punya? Kalo ketemunya jarang, terus telfonan atau smsan juga jarang?...”

“Mungkin … kadang-kadang, tapi ya yang punya dia dan aku adalah Allah Ta’ala… bukan aku memiliki dia atau dia memiliki aku, kami belum sah kak jadi suami istri… jadi aku Cuma berani bilang ada hati seseorang yang harus aku jaga perasannya… bukan dia punyaku atau aku punya dia” aku mulai serius. “ tapi… Iri juga kadang ngeliat temen-temen yang bisa ketemu orang yang mereka suka tiap hari, makan bareng, ngerjain tugas bareng… tapi aku cukup bersyukur bisa belajar seperti ini…” kataku sambil menunduk, dan kok tiba-tiba jadi ngerasa dramatis gini yaa.. hehe.

“Hm … jadi gimana Avita … ?”

“Apanya kak ?”

“apa gak pernah kangen … ?”

“Ya pasti ya…”

“Manusiawi yaa… ?”

“Hm, kata guruku, hal yang paling manusiawi adalah ketika kita benar-benar berusaha taat pada Allah, dan masalah kangen… aku pernah bahas itu sama dia… waktu itu kita lagi baca artikel tentang ‘hukumnya rindu’… tapi ternyata rindu yang dimaksud adalah rindu pada dimensi transendental atau rindu pada Sang Pencipta bukan rindu yang diartikan rindu-rindunya laki-laki ke perempuan atau sebaliknya. Nah, pas sama-sama baca artikel itu, kami berdua sepakat kalopun kangen ya dinikmatin aja sebagai apa yang sudah seharusnya, tapi kangen yang sebenarnya ya hanya milik Allah semata… itu aja kak… walaupun kadang-kadang ada yang suka kasih istilah ‘punya kok kayak gak punya…’ tapi aku punya Allah kok, haha’ dan dia… sekarang Cuma jadi apa yang Allah perkenalkan ke aku dan belum tau kedepannya gimana… Cuma bisa selalu berdoa, kak…” ucapku sambil tersenyum. Kak Diana yang masih asyik mendengarkanku tersenyum juga kepadaku.

“Baguslah… jadi gitu ya…” ucapnya sambil mengangguk-angguk.

Selanjutnya masih ada percakapan antara aku dan kak Diana dalam menghabiskan malam-malam di Yogyakarta akhir pekan itu. Meskipun agak bingung dengan pertanyaan kak Diana, ungkapanku tadi seperti memberi makna sendiri bagiku. Seperti mengulang lagi apa yang aku tahu tentang dia, meskipun tidak banyak. Tapi itulah yang bisa kuceritakan kepada kak Diana dan para pembaca semua. Semoga memberi manfaat. Meskipun aku tahu banyak sekali kisah-kisah diluar sana yang lebih memberi makna, namun cerita ini adalah satu makna bagiku untuk mengartikan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah sebuah doa. Bukan berarti ketika sudah dekat, sudah tahu bahwa ia adalah jodoh kita, tapi ini merupakan langkah awal untuk selalu berdoa kepada Sang Pencipta untuk memberi keyakinan bahwa seorang jodoh untuk kita pasti akan Dia pertemukan dengan kita di waktu yang terindah, termudah, dan terberkah. (Kata-kata guruku :D)



Geen opmerkingen:

Een reactie posten