Caringin With Our Child
Oleh N.A.Putri
Siapa yang tahu, dalam beberapa tahun terakhir arus
globalisasi deras melunturkan kultur bangsa timur yang terkadang dikatakan
bangsa ramah tamah. Indonesia salah satunya merupakan negara yang beraneka
ragam suku, yang adatnya amat natural. Kadang gelisah melihat seluruh tanah air yang
diwarisi para leluhur dengan prinsip-prinsip ajaran yang amat baik yaitu
mengenai gotong royong agaknya luntur dan goyah. Globalisasi yang menyerang
seperti masuknya teknologi yang begitu maju seperti tidak terkendali dan tidak
digunakan dengan baik sesuai fungsinya. Di daerahku, Tangerang Selatan, sudah
tidak heran anak usia 7 tahun bahkan 5 tahun sudah mampu menggunakan
smartphone, mengenal internet, dan selalu mencontoh kalimat-kalimat gaul yang
sering mereka dengar di tv atau di media lainnya. Mungkin tidak ada yang salah,
kemajuan teknologi justru membuat kemajuan berpikir pula, kemajuan kreatifitas,
kemajuan dalam segi pendidikan. Namun bayangkan, sebuah keluarga berkumpul
dengan seorang anak berusia 6 tahun dan berkumpul dengan masing-masing memegang
smartphone dan masing-masing sibuk dengan dunia yang katanya diciptakan atas
kemajuan globalisasi. Bukankan
kekeluargaan jadi berubah individualis dengan sapaan terdekat?
Aku tertegun, ketika hari ini, hari keduaku di sebuah Desa
Caringin Pinggiran kota Tangerang-Banten. Kami sekelompok diberi tempat tinggal
di lingkungan yang agamis dan tidak bertentangan secara ideologi dengan kami
semua. Aku melihat anak-anak usia 5-12 tahun berbondong-bondong lari ke
musholla ketika solat Maghrib. 5 gadis cilik, yang sangat membuatku terpaku,
mereka berlari ke ruangan sebelah musholla sederhana itu untuk mengaji dengan
membuat lingkaran. Mungkin aku sudah sangat jarang melihat pemandangan tersebut
di daerahku maka ada rasa bersyukur ternyata masih ada anak-anak yang
berbondong-bondong mengerti arti syukur, mengerti arti membantu orang tua di
usia sekecil itu, mengerti bagaimana mereka mengahadap TuhanNya, mereka merasa
malu ketika harus berjama ah karena ada beberapa jama’ah laki-laki. Mereka
mengerti rasa malu! Alhamdulillah… inilah anak-anak bangsa sesungguhnya mampu
mengerti rasa hormat, budi pekerti dan dibalut dengan pendidikan dari orang tua
tentang akhlakul karimah. Inilah anak-anak bangsa yang tidak individualis
akibat mengenal teknologi, mereka membuka mata dengan melihat lingkungan
sekitar dengan menempatkan diri sebagai anak-anak kepada temannya, sebagai
anak-anak kepada orang tuanya, dan sebagai anak-anak kepada yang lebih tua. Aku
mendapat kunci nyata, meski kecil mungkin, tapi ini pembuka gerbang besar bagi
pembelajaran. Anak-anak ini harus mengenal teknologi tapi dibalut dengan
pembatasan pemahaman yang baik, dan tetap pada koridornya sebagai anak bangsa.
Akan ada paragraf selanjutnya tentang Desaku.
Caringin-Cisoka.
Geen opmerkingen:
Een reactie posten