PENGALAMAN PERTAMA
Oleh :
N.A.Putri
| Add caption |
Banyak orang yang memiliki
pengalaman pertama yang berharga. Menginspirasi, yang mendalam atau yang tidak
akan terlupa selamanya dan bahkan akan menjadi pengalaman yang digelar
ceritanya sepanjang masa untuk memacu api semangat dalam kehidupan selanjutnya.
Agaknya, mungkin sebagian orang memandang berlebihan jika kuceritakan pengalaman
ini, teman-teman di luar sana tentu pernah merasakan pengalaman yang sama atau
justru merasakan pengalaman yang lebih luar biasa. Namun, apapun itu, akupun
ingin berbagi pengalaman pertama yang amat luar biasa bagiku. Di tengah malam ini,
aku mengenang kembali proses belajar yang menekan, terjadwal, terangkai, dan
bertujuan. Lagi-lagi ini bukan proses yang pertama bagiku, proses belajar
seperti ini sudah kukenal sejak aku duduk di pendidikan pesantren sewaktu
Aliyah. Menekan dan terjadwal untuk satu tujuan. Malam, siang, di meja makan,
di tempat tidur, bahkan belajar menjadi suatu kegiatan yang terbawa di alam
mimpi waktu itu. Tertidurpun mulutku masih komat-kamit menghafal muthola’ah
(pelajaran cerita hikmah berbahasa arab). Lelah, namun kelelahannya nyata
karena bertujuan dan begitu indah. Ketika di bangku kuliah belum lama ini,
masih di tahun yang sama ketika aku menulis cerita ini, aku mengikuti kompetisi
debat universitas tingkat nasional di salah satu universitas ternama di
Indonesia. Universitas Padjadjaran Bandung, kami tim dari UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta berangkat dengan segenggam doa, segumpal keyakinan dan
setitik kepasrahan di dalam usaha yang sudah kami lakukan. Proses belajar
ketika itu bersifat hampir sama seperti apa yang kurasakan ketika di pesantren,
namun ini lebih bersifat kooperatif karena di dukung berbagai komponen, karena
kami adalah tim, dan bukan personal sendiri. Dari mulai senior, temna-teman
seangkatan, dosen, sampai wakil dekan ikut andil dalam proses pembelajaran kami
ini. Inilah the super team, yang saling mendukung dan selalu memeberi
pemakluman jika di tengah-tengah latihan kami lelah atau kami memiliki jadwal
lain dan harus meninggalkan latihan.
Tapi sungguh, sekali lagi, jika cerita ini
dianggap berlebihan, aku hanya ingin masuk ke dalam daftar orang yang mampu berterimakasih
kepada orang-orang yang sudah mengukirkan semangat dan sampai akhirnya aku
mampu menceritakan pengalaman ini. Mungkin kami dari kampus yang belum semapan
kampus lainnya dalam kompetisi debat, namun kami yakin di tengah keterbatasan
itulah titik kekuatan kami memancar. Dalam segi internal kami kuat dari
kelompok kami saja, namun tidak dikuatkan dari kelompok lain sebagaimana aku
melihat kampus lain yang selalu bersinergi ketika mereka mengikuti kompetisi. Justru
dalam kondisi seperti itulah kami sendiri yang saling menguatkan dan mampu
belajar dari proses yang berbeda dari yang lainnya. Ketika secara berangsur
sesi demi sesi kami lalui, segala
perasaan bahkan berkecamuk. Mungkin bagi teman-teman pembaca yang pernah
mengalami hal yang sama akan tau bahwa dalam setiap kompetisi itu dapat
diibaratkan seperti perang. Benar sekali, debat hukum adalah debat akademis
yang dipertahankan dengan amunisi intelektualitas dan keyakinan. Setelah kami
masuk ke sesi semifinal dan kemudian kami menunggu pengumuman semifinal, aku
sudah tidak mampu tersenyum, tidak mampu mengatakan apapun, dan air mata
seperti menetes bahkan deras. Menetesnya air mataku karena rasa syukur atas
semua proses ini, dan tentu atas kegelisahan menanti pengumuman. Biarlah menangis
sebelum diumumkan dibandingkan harus menangis selepas diumumkan siapa tim yang
berhak maju ke final, itu pikirku. Salah, ternyata ketika diumumkan tim kami
berhak maju ke final justru air mata bukan berhenti namun semakin deras dan
pelukan-pelukan hangat dari kak endah, kak kendri, dan kak cantika adalah hal
yang semakin membuatku sesak. Adik-adik satu tim (Triesna dan Raziv) yang
selalu tersenyum dan menenangkan, merekapun menjadi titik kekuatanku. Dan inilah,
klimaks pengalaman pertamaku, ketika babak final kami berhadapan dengan
Universitas Hasanudin dari Makasar, aku harus berdiri di podium dan menghadapi
ratusan pasang mata yang mereka adalah peserta semua kompetisi yang berasal
dari penjuru Indonesia, terlebih aku harus berbicara di depan Sembilan juri
yang mereka adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya. Prof. Sri Soemantri,
Prof. Saldi Isra, Prof. Hikmahanto Juwana, Prof, Shidarta, Prof. Ali Zainudin,
Prof. Susi dan yang lainnya. inilah pertama kalinya aku harus mengungkapkan
argumentasiku di depan mereka yang selalu kubaca analisisnya dan tak tahu
ternyata merekalah juri pada kompetisi ini. Usai menjalani tugas kami
memaparkan argumentasi di babak final, ada perasaan lega dan lebih ikhlas
ketika menunggu pengumuman, dan aku sudah sangat siap apabila Universitas
Hasanudin yang berhak menjadi juara 1 dalam kompetisi ini. Namun lagi-lagi
salah, sangat salah. Ketika diumumkan bendera UIN lah yang harus berkibar dan
sekali lagi, emosi tangis mewarnai tim kami. Aku maju dan menerima tropi
kemenangan atas tim kami, dan berdiri tegak dengan senyum bekas tangis di
samping Prof. Sri Soemantri seorang penggagas amandemen Undang-Undang Dasar
1945, seorang ahli hukum tata negara yang pemikirannya selalu digunakan demi
kemajuan Negara Republik Indonesia, seorang yang memiliki kontribusi besar
dalam pembangunan tata negara Indonesia. Inilah pengalaman pertama yang
berharga bagiku, dan semoga bukan untuk yang pertama dalam penorehannya namun
akan menjadi pengalaman pertama yang dapat mengamini pengalaman-pengalaman
berikutnya. Semoga selalu tertanam rasa semangat, dan kita mampu menyadari bahwa di sekeliling kita banyak titik-titik yang menguatkan tanpa harus fokus pada satu titik yang menjatuhkan :)
Geen opmerkingen:
Een reactie posten